Contoh PTK

Contoh PTK PKn dengan Metode Jigsaw

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Dasar Negara  merupakan suatu  hal yang sangat  mendasar atau fundamental  bagi tegak berdirinya bangunan suatu negara. Sama seperti halnya bangunan fisik sebuah gedung atau istana, tanpa adanya yang disebut pondasi sebagai dasar bangunan,  maka tiang tidak akan bisa dipancangkan, dinding dan ruang bangunan tidak bisa ditegakkan,  atap tidak bisa dibentangkan, bahkan bangunan gedung atau istana itu sendiri secara keseluruhan tidak akan bisa didirikan.

Demikian pula halnya dengan bangunan suatu Negara. Tanpa adanya yang disebut dasar negara maka pemerintahan tidak akan bisa dibentuk dan ditegakkan, pemenuhan aspek-aspek kehidupan berbangsa dan bernegara  tidak akan bisa diselenggarakan secara tertib dan terarah, tujuan hidup apa yang ingin dicapai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara juga tidak akan bisa ditentukan secara jelas. Singkatnya, keberadaan negara yang tanpa dasar negara itu (kalaupun ada), akan mudah terombang-ambing dan akhirnya tumbang manakala dihadapkan pada berbagai permasalahan besar umat manusia dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang terus berubah dan berkembang.

“Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara” adalah salah satu materi pokok dalam pembelajaran PKn pada kelas 8 semester ganjil  menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  SMP Negeri 2 Sugio-Lamongan. Materi pembelajaran dimaksud bertujuan untuk membekali peserta didik dengan berbagai kompetensi dasar  yang berkaitan dengan semua ranah dalam pendidikan, baik itu ranah kognitif, ranah afektif maupun ranah psikomotorik. Ranah kognitif dalam hal ini berhubungan dengan kompetensi dasar  “menjelaskan (makna pentingnya) Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara serta menguraikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya”. Ranah afektif berhubungan dengan kompetensi dasar “menunjukkan sikap positif terhadap Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”. Sedangkan ranah psikomotorik berhubungan dengan kompetensi dasar “menampilkan sikap positif terhadap Pancasila dalam kehidupan masyarakat”.

Adanya cakupan ketiga ranah pendidikan tersebut tidak terlepas dari peran keberadaan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), yang dalam struktur kurikulum pendidikan nasional merupakan salah satu materi yang wajib dimuat untuk disampaikan kepada subyek didik dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi (vide, pasal 37 ayat 1 dan 2 UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Dalam penjelasan pasal 37 ayat 1 UU No. 20 Tahun 2003 itu disebutkan, bahwa “pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air”.

Ditegaskan pula oleh Malik Fajar dalam Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (2008:16): ‘Pendidikan Kewarganegaraan mendapat tugas untuk menanamkan komitmen kebangsaan, termasuk mengembangkan nilai dan perilaku demokratis dan bertanggung jawab sebagai warga Negara Indonesia’.

Mengingat penting dan strategisnya penguasaan kompetensi dasar yang terkandung dalam materi pokok pembelajaran ini, maka semua peserta didik sebagai calon-calon pemimpin masa depan, sebagai tunas-tunas muda penerus perjuangan bangsa, harus mampu menguasai dengan baik semua kompetensi dasar yang telah dicanangkan itu. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika bangsa dan negara ini kelak dipimpin oleh orang-orang yang tidak pernah bisa mengetahui  dengan jelas apa visi dan misi negaranya, bahkan rumusan dasar negaranya saja tidak hafal.

Akan tetapi faktanya, banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep dasar negara dan ideologi negara. Mereka juga banyak yang mengalami kesulitan untuk menguraikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila serta menunjukkan contoh-contoh sikap positif  terhadap Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Selain daripada itu, aktivitas belajar peserta didik juga kelihatan pasif dan tidak produktif. Penerapan metode ceramah dengan variasi tanya jawab dalam hal ini seolah tidak banyak membantu penguasaan kompetensi dasar bagi peserta didik, tidak pula membantu  memecah kebekuan suasana dalam proses pembelajaran di kelas. Mereka ditanya, diam. Diminta untuk bertanya, juga diam. Peserta didik sepertinya kurang menaruh minat dan tidak bergairah dalam mengikuti proses pembelajaran. Sungguh tidak ada yang merisaukan hati dan membebani perasaan seorang guru selain dari melihat suasana pembelajaran di kelasnya seperti menghadiri upacara pemakaman.

What’s wrong with me? What’s wrong with you? “Apa yang salah denganku? Apa yang salah denganmu?”, itulah pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul dalam benak hati guru di sini.

Dan, daripada menerka mencari-cari kesalahan pada orang lain (peserta didik), lebih baik “stop blaming others!” (Berhenti menyalahkan orang lain!) dan mencoba untuk berani melakukan refleksi dan introspeksi.

Dari hasil refleksi dan introspeksi, ditambah dengan hasil diskusi dengan sejawat diperoleh gambaran  yang agak jelas tentang  alternatif pemecahan masalah yang kiranya patut dilakukan, salah satu di antaranya yaitu mengubah strategi dan metode pembelajaran. Strategi pembelajaran dengan metode ceramah, meskipun diselingi dengan variasi metode tanya jawab dinilai terlalu mengedepankan peran dan aktivitas guru dalam pembelajaran (teacher centered). Sebagai akibatnya, peserta didik bersikap pasif dan seringkali juga jenuh karena merasa diperlakukan sebagai tabung kosong yang selalu menunggu dan menunggu penggerojokan isi dari luar dirinya, meskipun pada akhirnya banyak yang tumpah di mana-mana dan tidak bisa mengendap terwadahi dengan baik.

Peserta didik perlu dihadapkan pada situasi pembelajaran yang menantang namun tetap kondusif, yang memberikan mereka cukup waktu dan ruang gerak untuk berekspresi dan berkreasi secara menyenangkan. Dalam istilah yang lebih up to date, peserta didik perlu disuguhi strategi dan metode pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (disingkat PAIKEM). Strategi pembelajaran demikian sangat memungkinkan peserta didik untuk belajar bagaimana mengerjakan atau melakukan sesuatu (learning to do), seperti merumuskan ide, membuat simpulan, memecahkan masalah, dan lain sebagainya. Peserta didik dengan begitu akan mengalami sendiri dan terlibat langsung secara aktif (baik fisik, intelektual, emosional dan sosial) dalam proses pembelajaran.

Strategi pembelajaran PAIKEM juga memungkinkan peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang sangat berharga tentang bagaimana mengembangkan segenap potensi yang ada pada dirinya (learning to be), sehingga peserta didik bisa  menemukan jati dirinya dan mendapatkan rasa percaya diri yang mantap.

Tidak hanya itu, strategi pembelajaran PAIKEM juga memungkinkan peserta didik untuk mendapatkan bekal keterampilan hidup (skill life) yang sangat diperlukan guna menjawab berbagai masalah dan tantangan hidup yang muncul pada era kehidupannya di masa depan. Keterampilan hidup dimaksud secara umum adalah kemampuan untuk belajar bagaimana seharusnya belajar (learning how to learn). Dengan keterampilan seperti itu peserta didik akan senantiasa terangsang dan tertantang oleh rasa ingin tahunya (sense of curiousity) untuk belajar dan belajar sepanjang hayat (long life education), berusaha untuk terus menggali dan menggali dari berbagai sumber belajar dan menemukan sendiri cara pemecahan masalah yang dihadapi. Belajar dengan demikian tidak lagi dirasakan sebagai  beban, tetapi sebaliknya dianggap sebagai kebutuhan.

Last but not least (terakhir tetapi tidak kalah pentingnya) yang mungkin bisa didapatkan peserta didik dari strategi pembelajaran PAIKEM adalah keterampilan untuk belajar hidup  dan bekerja sama dengan orang lain (learning to live together). Keterampilan demikian terasa sangat urgent di saat dunia semakin global seperti sekarang ini. Dan dengan itu peserta didik tidak perlu takut lagi untuk bersaing secara sehat. Mereka dituntut untuk berani mengakui dan menghargai orang lain, mengakui dan menghargai keanekaragaman, memiliki sikap kesetiakawanan sosial dan  tanggung jawab sosial yang tinggi. Sehingga pada akhirnya peserta didik dengan lantang dan bangga meneriakkan slogan: “Bersama kita bisa”.

Itulah empat pilar strategi pendidikan yang telah direkomendasikan oleh Komisi tentang Pendidikan Abad ke-21  (Commission on Education for the “21” Century) dari UNESCO untuk mensukseskan pendidikan di era global sekarang ini, yaitu: learning to do, learning how to learn, learning to be, dan  learning to live together.

Salah satu metode pembelajaran yang termasuk dalam kategori PAIKEM dan  dipandang cocok untuk membantu memecahkan masalah yang ada di sini yaitu metode pembelajaran Jigsaw (Tim Ahli). Metode Jigsaw merupakan bagian dari model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) yang memungkinkan peserta didik untuk terlibat secara aktif  dan saling bekerja sama di antara mereka secara kooperatif maupun kolaboratif dalam proses pembelajaran. Metode jigsaw memungkinkan peserta didik untuk mendapat pengalaman belajar yang menyenangkan dan sangat bermakna, mencakup keempat pilar belajar yang telah direkomendasikan UNESCO tersebut.

Ibrahim, dkk (2000) mengemukakan kelebihan dari metode jigsaw sebagai berikut.

  • Dapat mengembangkan tingkah laku kooperatif
  • Menjalin/mempererat hubungan yang lebih baik antar siswa
  • Dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa
  • Siswa lebih banyak belajar dari teman mereka dalam belajar kooperatif dari pada guru.

Berdasarkan paparan pemikiran yang telah terurai maka dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini diformulasikan dengan judul sebagai berikut:  Meningkatkan Penguasaan Kompetensi Dasar dalam  Pembelajaran PKn Melalui Penggunaan Metode  Jigsaw  di Kelas 8 SMP Negeri 2 Sugio Tahun 2011.

  1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah terurai, kiranya perlu diidentifikasikan adanya berbagai masalah yang sangat mungkin berhubungan dengan tema sentral dalam penelitian ini. Masalah-masalah yang mungkin ada berhubungan erat dengan judul penelitian ini, antara lain adalah:

  1. Masalah rendahnya penguasaan kompetensi dasar siswa terhadap materi pembelajaran;
  2. Rendahnya aktivitas  belajar siswa;
  3. Rendahnya motivasi belajar siswa;
  4. Strategi dan metode pembelajaran belum efektif;
  5. Rendahnya tingkat kecerdasan intelektual peserta didik;
  6. Kurangnya sumber belajar dan/atau pendayagunaannya belum optimal;
  7. Kurang lengkapnya fasilitas dan media pembelajaran;
  8. Suasana lingkungan di dalam kelas kurang kondusif;
  9. dan mungkin masih ada lainnya yang tidak bisa disebutkan di sini.

Itulah berbagai masalah yang kemungkinan besar timbul berkaitan dengan judul penelitian ini.

  1. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Mengingat adanya berbagai keterbatasan (waktu, tenaga, pikiran,  biaya, dan lain sebagainya), maka tidak semua masalah yang telah teridentifikasikan tersebut dikaji dalam penelitian ini. Masalah-masalah yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini terbatas pada masalah  angka 1 s/d 3 sebagaimana tersebut di bagian identifikasi masalah. Dari situ dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

    1. Apakah penerapan metode jigsaw dapat meningkatkan penguasan kompetensi dasar siswa kelas 8 SMP Negeri 2 Sugio terhadap materi pembelajaran Pancasila Sebagai Dasar Negara?
    2. Apakah penerapan metode jigsaw dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas 8 SMP Negeri 2 Sugio terhadap materi pembelajaran Pancasila Sebagai Dasar Negara?
    3. Apakah penerapan metode jigsaw dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas 8 SMP Negeri 2 Sugio terhadap materi pembelajaran Pancasila Sebagai Dasar Negara?
  1. Pemecahan Masalah

Alternatif pemecahan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah penerapan strategi pembelajaran model Cooperative Learning, khususnya metode pembelajaran Jigsaw. Dari situ dapat diformulasikan hipotesis tindakan sebagai berikut:

    1. penerapan metode jigsaw dapat meningkatkan penguasan kompetensi dasar siswa kelas 8 SMP Negeri 2 Sugio terhadap materi pembelajaran Pancasila Sebagai Dasar Negara.
    2. penerapan metode jigsaw dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas 8 SMP Negeri 2 Sugio terhadap materi pembelajaran Pancasila Sebagai Dasar Negara.
    3. penerapan metode jigsaw dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas 8 SMP Negeri 2 Sugio terhadap materi pembelajaran Pancasila Sebagai Dasar Negara
  1. Tujuan Penelitian

Peneltian ini secara umum bertujuan ingin membantu siswa Kelas 8 SMP Negeri 2 Sugio dalam mengatasi kesulitan belajar dan dalam penguasaan kompetensi dasar terhadap materi pembelajaran “Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara” yang terdapat pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Adapun secara khusus tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

  1. untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap kompetensi dasar dalam materi pembelajaran “Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Negara” setelah selesai proses pembelajaran dengan metode jigsaw;
  2. Untuk mengetahui tingkat aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran melalui penerapan metode jigsaw;
  3. Untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa terhadap proses pembelajaran dengan metode jigsaw.
  1. Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sekecil apapun kepada para pihak yang terlibat secara langsung dalam proses belajar dan pembelajaran, serta dalam penyelenggaraan pendidikan formal (persekolahan). Secara terperinci manfaat hasil penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut:

    1. Bagi penulis, penelitian ini memberikan pengalaman yang sangat berharga sebagai sarana pengembangan kompetensi professional seorang guru;
    2. Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat dijadikan  sebagai resep untuk mendapatkan pengalaman dan cara-cara belajar yang, selain menyenangkan, juga mampu menggugah semangat aktivitas belajar mereka, untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar yang ada dalam mata pelajaran PKn khususnya, dan mata pelajaran lain pada umumnya;
    3. Bagi guru PKn khususnya dan guru mata pelajaran lainnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam menyusun rencana dan melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan metode jigsaw.

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: